Pages

Sabtu, 21 Desember 2013

Hanya 25% ORANG Indonesia Yang Bayar Pajak

Hanya 25% ORANG Indonesia Yang Bayar Pajak
JAKARTA, KOMPAS.com — Dari keseluruhan jumlah populasi Indonesia, baru 25 persen individu yang membayar pajaknya kepada negara. Ini salah satu faktor yang menyebabkan pembangunan belum terlaksana dengan baik. 

Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak Fuad Rahmany mengatakan, banyak pengusaha yang merasa sudah membayar pajak tetapi mengeluhkan fasilitas dan infrastruktur yang minim. Hal ini menurutnya karena masyarakat yang bayar pajak baru sedikit, baik pengusaha maupun individu. 

"Pengusaha merasa bayar pajak gede tapi sarananya enggak ada, sehingga mereka jadi komplain. Ini masalah utama. Intinya mudah, karena yang baru bayar pajak baru sedikit, baik pengusaha maupun individu. Individu lebih parah, baru 25 persen atau setara 40 juta orang," kata Fuad dalam seminar nasional perpajakan, "Penguatan Politik Perpajakan untuk Mendukung Daya Saing Nasional", Kamis (21/11/2013). 

Fuad mengatakan, apabila 40 juta populasi yang belum membayar pajak tersebut membayarkan pajaknya, ia yakin infrastruktur dapat terbangun. Selain itu, permasalahan yang terkait infrastruktur, contohnya jalan raya, jalan tol, dan listrik pun diyakininya dapat diatasi. 

"Ekonomi kita tidak akan bisa meningkat daya saingnya kalau infrastrukturnya tidak ada. Kalau infrastruktur kita jeblok dan pembangunannya ketinggalan itu karena uangnya kurang. Kalau pajaknya, uangnya kurang, pembangunan dan segala kepentingan ekonomi nasional tidak terlaksana juga," ujar Fuad. 

Fuad menyebut beberapa permasalahan utama perpajakan di Tanah Air. Pertama, belum tergalinya wajib pajak orang pribadi (WP OP). Selain itu, peneriman pajak terkonsentrasi hanya pada sektor formal dan sektor kegiatan ekonomi yang berorientasi pasar luar negeri. 

Masalah lainnya adalah relatif kecilnya DJP terhadap perekonomian nasional dan wilayah Indonesia. "Pajak itu masalahnya keadilan. Kalau sebagian orang Indonesia sudah bayar pajak yang lainnya belum itu ibaratnya penumpang gratis. Mereka sudah menikmati subsidi BBM, tetapi enggak ikut menyumbang. Ini yang bikin kita jadi bangsa kerdil, punya negara tapi duitnya kecil karena urunannya enggak ada. Ini yang bikin pengusaha komplain karena mereka sudah bayar pajak tapi fasilitasnya masih kurang," katanya.
Analisa :
Jumlah masyarakat yang membayar pajak hanya mencapai 25% tidak dapat disalahkan dari Wajib pajaknya saja.Perlu dikoreksi kembali dari pihak pemungut pajak apakah mereka sudah melakukan tugasnya dengan baik atau belum.Kasus yang menyebutkan nama-nama pemungut pajak yang telah menggelapkan uang rakyat cukup membuat masyarakat trauma dan enggan untuk membayar pajak.Sehingga pada akhirnya muncul pemikiran-pemikiran kecil untuk apa mereka membayar pajak jika akhirnya uangnya hanya akan dinikmati oleh para pihak yang menangani pajak.
Profesionalitas antara pihak yang menangani pajak dengan Wajib pajak memang sangat di butuhkan.Selain itu di perlukan sanksi-sanksi yang kuat terhadap pihak yang menyelewengkan uang pajak,dengan pihak yang tidak membayar pajak,padalah sudah termasuk wajib pajak.Pihak yang sudah memiliki pendapatan di atas PTKP di namakan wajib pajak.Wajib pajak yang tercatat telah membayar pajak hanya sekitar 25%.Sedangkan orang kaya di Indonesia pada saat ini mungkin sudah mencapai angka jutaan.Tetapi hanya sebagian kecil dari mereka yang memiliki kesadaran untuk membayar pajak.Sedangkan masyarakat-masyarakat kecil seperti karyawan pabrik saja membayar pajak dengan cara pemotongan langsung oleh pihak ketiga,yaitu perusahaan tempat mereka bekerja.Padahal fasilitas-fasilitas yang dihasilkan dari uang pajak dinikmati bersama-sama.Oleh sebab itu dibutuhkan peraturan yang tegas mengenai pajak di Indonesia.Apabila pajak terlaksana dengan baik,maka insfrastruktur akan berjalan dengan baik dan perekonomian juga akan berjalan dengan baik pula.




Bagi Investor,Indonesia Lebih Menarik Daripada Malaysia-Singapura


Bagi Investor,Indonesia Lebih Menarik Daripada Malaysia-Singapura
Brunei Darussalam, Sayangi.com - Menteri Perdagangan RI, Gita Wirjawan mendukung kemudahan bisnis di ASEAN. Salah satunya dengan mendukung fasilitasi perdagangan, dan mengurangi hambatan-hambatan perdagangan yang selama ini menjadi kendala bagi pengusaha ASEAN.
"Para Menteri Ekonomi ASEAN juga mendukung penciptaan iklim investasi yang kondusif di ASEAN untuk menarik investor di kawasan ASEAN dan non-ASEAN melalui perbaikan tata kelola di bidang investasi yang pro terhadap perlindungan investasi, promosi investasi, serta transparansi," kata Gita dalam siaran pers yang diterima Sayangi.com saat memimpin delegasi Indonesia pada pertemuan AFTA Council ke-27, AIA Council ke -16, AEM ke-45, dan AEC Council ke -10 yang diselenggarakan di International Convention Centre (ICC), Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, (Selasa, 19/8/2013).
Salah satu agenda penting dari pertemuan para Menteri Ekonomi ASEAN kali ini adalah menelaah langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk memastikan terlaksananya integrasi ASEAN tahun 2015 dengan memperkuat posisi ASEAN pada perdagangan barang dan investasi intra-ASEAN, serta meningkatkan pergerakan jasa di ASEAN.
“Perdagangan barang intra-ASEAN harus terus ditingkatkan agar integrasi ASEAN benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh pengusaha Indonesia. Para Menteri Ekonomi ASEAN hadir di sini untuk memastikan adanya upaya untuk medorong fasilitasi perdagangan, termasuk mengurangi hambatan-hambatan perdagangan yang selama ini menjadi kendala bagi pengusaha ASEAN,” jelasnya.
Lebih lanjut Gita menjelaskan, Indonesia kini menjadi tujuan utama investasi yang paling menarik bagi para Investor, yakni sebesar 40 persen, diikuti Singapura (36%) dan Malaysia (14%).
"Kondisi yang membanggakan ini perlu dijaga agar target pertumbuhan nasional tahun 2013 dapat tercapai," tambahnya.
Para Menteri Ekonomi ASEAN juga menegaskan komitmennya dalam mendorong integrasi di sektor jasa yang berkembang pesat dan memberikan kontribusi yang besar bagi perekonomian ASEAN.
ASEAN berupaya untuk memperkuat langkah dalam menciptakan sektor jasa dengan memperluas akses pasar jasa dan menyusun berbagai instrumen saling pengakuan di beberapa profesi yang terdapat di ASEAN.
Mendag juga melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan Selandia Baru, guna menyukseskan pertemuan Konferensi Tingkat Menteri (KTM) WTO ke-9 di Bali, Desember mendatang. Konferensi ini untuk memperkuat sistem kerja sama perdagangan multilateral. (MI)

Analisa :
Indonesia merupakan Negara yang subur baik dari sektor darat mau pun laut.Istilah “Tongkat kayu menjadi tanaman” rasanya sangat tepat untuk menggambarkan kesuburan tanah Indonesia.Apabila investor menanamkan modalnya di Indonesia,kemungkinan memperoleh profit jauh lebih besar dibandingkan dengan kemungkinan rugi.Beberapa perusahaan yang telah merasakan keuntungan berinvestasi di Indonesia antara lain :
1.    PT LONSUM Yang bergerak di industry kelapa sawit.PT Lonsum merupakan kerjasama antara London dengan Indonesia(Sumatera).Kerja sama ini telah terjadil lebih dari 1 dekade.
2.    Restaurant-restaurant yang kepemilikannya sebagian besar milik investor asing seperti KFC dan Mc.Donalds.
Ada beberapa alasan yang menyebabkan berinvestasi di Indonesia memberikan keuntungan yang menggiurkan,antara lain:
1.    Inonesia merupakan Negara yang kaya akan hasil alamnya.Bahkan banyak hasil alam yang dibutuhkan diluar negeri seperti rempah-rempah dapat di budidayakan dengan mudah di Indonesia.Faktor lain yang cukup mendukung adalah musim di Indonesia yang hanya terdiri dari musim kemarau dan musim hujan yang sangat mendukung apabila investasi yang dilakukan dalam sektor tumbuh-tumbuhan.
2.    Masyarakat Indonesia cenderung masyarakat yang gampang terpengaruh untuk mengkonsumsi produk luar.Lihat saja KFC dan MCD yang laris manis hampir di setiap cabang.
Investasi yang dilakukan investor asing ini juga tentu akan menimbulkan dampak yang positif bagi perekonomian Indonesia,diantaranya :
1.    Masukan dari sektor pajak usaha.
2.    Masukan devisa.hal ini terjadi jika pemilik investasi tersebut akan berkunjung ke Indonesia untuk mengontrol usahanya.Kedatangan mereka akan memberikan masukan terhadapa pendapatan devisa.
3.       Penyerapan tenaga kerja.Karena kerjasama berlokasi di Indonesia,maka tenaga kerja yang dipakai tentu saja tenaga kerja Indonesia.Hal ini berdampak positif karena akan mengurangi tingkat pengangguran.
Investasi di Indonesia sebenarnya menimbulkan banyak dampak positif terhadap perekonomian Indonesia.Hanya saja kerjasama ini harus didasari dengan kontrak yang jelas untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan seperti penipuan dan lain sebagainya dikemudian hari.

Jangan Biarkan Investasi Asing Merajalela Di lautan


Jangan Biarkan Investasi Asing Merajalela Di lautan
Jakarta, Sayangi.com - Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) menyatakan investasi asing jangan dibiarkan merajalela di tanah air sehingga berpotensi mengancam sektor ketenagakerjaan maupun industri terkait perikanan di Indonesia.

"Di Indonesia investasi asing mendominasi," kata Sekretaris Jenderal Kiara Abdul Halim dalam keterangan persnya hari ini, Kamis (21/10), seperti dikutip Kantor Berita Antara. Menurut Abdul Halim, dominannya investasi asing tersebut antara lain karena akses asing makin leluasa di dalam negeri untuk turut mengelola sumber daya ikan.

Untuk itu, Kiara mengingatkan pemerintah untuk memaksimalkan pengelolaan sumber daya ikan untuk pencerdasan kehidupan bangsa dan kemandirian ekonomi nasional. Selain itu, lanjutnya, pemerintah juga didesak agar melakukan reorientasi kebijakan penganggaran kelautan dan mengubah orientasi ekspor dengan memaksimalkan potensi demografi dalam negeri.

Apalagi, ujar dia, tren perikanan dunia saat ini adalah tingginya permntaan ikan dan produk olahannya, melonjaknya produksi perikanan budidaya, serta meningkatnya nilai perdagangan dunia.

Sebagaimana diberitakan, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Suryo Bambang Sulisto menyatakan, masih lemahnya sektor perikanan di Tanah Air antara lain karena masih terdapat pencurian komoditas perikanan oleh pihak asing. "Salah satu penyebab lemahnya sektor perikanan nasional adalah sumber daya laut yang banyak dicuri oleh pihak asing," kata Suryo Bambang Sulisto dalam Rapat Koordinasi Kadin Bidang Perikanan di Jakarta, Jumat (18/10).

Selain itu, ujar dia, banyak nelayan Indonesia juga masih menggunakan perahu tradisional yang tidak mampu berlayar "off-shore" (lepas pantai hingga ke kawasan perairan laut dalam).

Hal tersebut, lanjutnya, berbeda dengan kapal nelayan asing yang banyak mampu berlayar di laut bebas dilengkapi dengan "cold storage" (lemari pendingin), dengan sistem navigasi canggih dan mesin kapal yang kuat. "Kita perlu memodernisasi industri perikanan laut yang melibatkan nelayan kecil," kata Ketua Umum Kadin.

Sementara itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo menyatakan pekerja asing bakal mengincar lowongan pekerjaan di sektor kelautan dan perikanan di Indonesia setelah pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015.

"Dengan adanya komitmen Indonesia bersama dengan anggota ASEAN untuk mengimplementasikan MEA di tahun 2015, kesempatan kerja di sektor kelautan dan perikanan yang tersedia di dalam negeri akan menjadi incaran pekerja asing," kata Sharif dalam pembukaan Gelar Pelatihan Nasional Kelautan dan Perikanan 2013 di Jakarta, Rabu (13/11).

Untuk itu, menurut dia, seluruh pemangku kepentingan dan komponen masyarakat harus mampu menyiapkan SDM yang memenuhi standar dan kebutuhan dunia usaha dan industri. (MSR)
          Analisa :
Wilayah Indonesia terdiri dari laut sebagai komponen terbesarnya.Dengan laut yang begitu luas,sudah dapat dibayangkan betapa banyaknya kekayaan laut berupa ikan,dan hasil laut lainnya yang terkandung didalamnya.Hal ini seharusnya dapat dimanfaatkan masyarakat Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pangan dan menampung tenaga kerja.Selain itu,dengan hasil laut yang sangat kaya tersebut harusnya Indonesia dapat memasuki pasar laut internasional.
Tetapi fakta yang terjadi saat ini,laut Indonesia sebagian besar dikuasai oleh investor asing.Mereka melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan kapal-kapal serta peralatan yang canggih,sangat bertolak belakang dengan nelayan Indonesia yang masih banyak menggunakan peralatan yang masih sangat sederhana.Ikan-ikan dengan kualitas super di ekspor ke luar negeri,dan sisanya baru diperdagangkan dalam negeri.Dan yang lebih menyedihkan lagi banyak nelayan-nelayan gelap yang masuk ke laut Indonesia dan menikmati hasil laut Indonesia tanpa izin dari Indonesia.Seperti yang marak dibicarakan akhir-akhir ini yaitu berita tentang masuknya nelayan di perairan daerah Kalimantan.Hal ini menimbulkan kerugian dua kali lipat bagi pihak Indonesia.Kerugian pertama,Indonesia kehilangan hasil laut senilai yang di curi oleh nelayan asing,kerugian kedua,karena para nelayan tersebut memasuki Indonesia melalui jalan yang tidak resmi(secara terseludup),maka mengurangi pendapatan devisa bagi Indonesia.
Kabar yang terakhir terkuak semakin memalukan bagi Indonesia.Dimana dikabarkan bahwa Indonesia impor lele dari Malaysia.Lele merupakan sejenis ikan yang sangat mudah untuk di budidayakan.Terlebih daerah Indonesia dengan temperature udara dan musim yang sangat tepat untuk membudidayakan ikan lele.Tetapi pada akhirnya Indonesia masih menerima impor lele dari Malaysia.


Negara Berhutang Rp 2.276 Triliun,Wajib Pajak Disalahkan


Negara Berhutang Rp 2.276 Triliun,Wajib Pajak Disalahkan
Jakarta, Sayangi.com - Tingginya angka wajib pajak yang lalai membayar pajak disebut-sebut sebagai penyebab utama tingginya hutang Pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pasalnya, kekurangan pembiayaan itu akhirnya dibiayai Pemerintah lewat utang.

Utang Indonesia per Oktober 2013 telah mencapai Rp 2.276,98 triliun. Jumlah tersebut terus meningkat dikarenakan oleh bertambahnya utang untuk pembiayaan beberapa pos belanja Pemerintah, salah satunya adalah belanja di sektor infrastruktur. 

Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Fuad Rahmany mengungkapkan, angka belanja yang tinggi membutuhkan pemasukan yang besar pula. Kurangnya penerimaan pajak mengakibatkan pemerintah harus mengutang untuk membiayai belanja negara. "Utang negara semakin naik. Belanja tinggi sementara yang bayar pajak kurang sekali. Mau dibiayai pake apa belanja, selain utang," tutur Fuad di Seminar Penguatan Politik Perpajakan Untuk Mendukung Daya Saing Nasional, Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (2/11).

Menurut dia, masih kurangnya infrastruktur nasional menuntut pemerintah fokus pada pembangunan infrastruktur. Pembiayaan belanja pembangunan infrastruktur ini, akan terkendala dengan kelalaian wajib pajak yang terjadi selama ini. "Ada juga yang berkeluh, 'kita 'kan sudah bayar, kok enggak dapat apa-apa'. Ini terjadi karena orang yang lalai bayar pajak masih banyak. Coba kalau semua orang bayar pajak, kita bisa bangun infrastruktur lebih baik," ujarnya.

Dia menuturkan, perbaikan dan pembangunan infrastruktur ke arah yang lebih baik dan berguna bagi kesejahteraan rakyat sangat tergantung pada kesadaran wajib pajak untuk melaksanakan kewajibannya membayar pajak. (MSR)
Analisa:
Tidak dapat di pungkiri bahwa pada saat ini infrasuktur Indonesia belum dapat dikatakan baik.Banyak sekolah-sekolah yang belum mendapatkan fasilitas yang layak,dan jalanan berlubang masih banyak di temui dimana-mana.Selain itu,banyak daerah-daerah yang harusnya di bangun jembatan,tetapi belum terlaksana sampai saat ini.
Dana pembangunan infrasutruktur di peroleh dari pemungutan pajak.Apabila pajak tidak terlaksana dengan baik,maka infrastruktur yang baik juga tidak akan terwujud.Satu-satunya cara yang dapat dilakukan untuk memperbaiki infrastruktur  tanpa menggunakan dana pajak adalah dengan melakukan pinjaman.Tetapi hal ini akan berdampak buruk sebab akan menambah jumlah hutang Negara.
Masalah pemungutan pajak yang tidak mencapai target,sepenuhnya bukanklah kesalahan dari wajib pajak saja.Memang tidak dapat dipungkiri bahwa jumlah wajib pajak yang tidak membayar pajak jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan wajib pajak yang membayar pajak dengan baik.Hal ini dilakukan wajib pajak bukan tanpa alasan yang jelas.Ada beberapa alasan yang menyebabkan wajib pajak tidak mau membayar pajak dengan baik,antara lain:
1)    Masyarakat tidak mengerti mengenai manfaat membayar pajak
2)    Masyarakat merasa tidak ada perbedaan antar yang melakukan pembayaran pajak dengan baik dengan masyarakat yang mangkir pajak.Sebab pada akhirnya pihak yang mangkir pajak juga tetap dapat menikmati fasilitas yang dibangun dari dana pajak yang di peroleh dari wajib pajak yang taat peraturan
3)    Penyalahgunaan dana pajak oleh pihak pemerintah.Hal ini merupakan alasan terkuat masyarakat untuk tidak membayar pajak dengan benar.Maraknya berita di televisi yang menguak berita tentang penyalahgunaan uang pajak menyebabkan masyarakat tidak mau memayar pajak.Para tokoh-tokoh pajak yang kurang pantas untuk ditiru sebut saja seperti Gayus Tambunan mengurangi kepercayaan masyarakat untuk membayar pajak.
Untuk mencapai dana pajak sesuai dengan yang telah di targetkan,diharapkan adanya kerjasama yang baik antara wajib pajak dengan pihak pemungut pajak.Wajib pajak diharapkan untuk membayar pajak dengan benar,dan pemungut pajakdiharapkan dapat melakukan tugasnya dengan professional.

Selasa, 03 Desember 2013

TUGAS 4(Membuat Kerangka Karangan)

Membuat Kerangka Karangan(Tugas 4)
PENGUKURAN KINERJA PERUSAHAAN DENGAN MENGGUNAKAN ANALISIS LIKUIDITAS,PROFITABILITAS,DAN SOLVABILITAS PADA PT.ADHI KARYA(Persero)Tbk
BAB I     PENDAHULUAN
   1.1   Latar Belakang
   1.2   Rumusan Masalah
   1.3   Tujuan Penelitian
   1.4   Manfaat Penelitian
   1.5   Metode Penelitian
  1.5.1                    Objek Penelitian
  1.5.2                    Data/Variabel
  1.5.3                    Metode Pengumpulan Data/Variabel
  1.5.4                    Alat Analisa Yang Digunakan

BAB II    LANDASAN TEORI
   2.1   Kerangka Teori
    2.1.1                      Pengertian Kinerja
    2.1.2                      Pengertian Laporan Keuangan
    2.1.3                       Pengertian Analisis Likuiditas,Profitabilitas,dan Solvabilitas
   2.2   Kajian Penelitian Sejenis
   2.3   Alat Analisis

BAB III   METODOLOGI PENELITIAN
                3.1 Objek Penelitian
                      3.1.1              Profile Perusahaan
                      3.1.2              Dewan Komisaris,Direksi,dan Karyawan
   3.2 Data/Variabel
   3.3 Metode Pengumpulan Data/Variabel
   3.4 Alat Analisa Yang Digunakan
BAB IV  PEMBAHASAN
               4.1 Data Penelitian
       4.1.1              Profile Perusahaan
       4.1.2              Hasil Penelitian dan Analisis/Pembahasan
       4.1.3              Rangkuman Hasil Penelitian

BAB  V   PENUTUP
                5.1 Kesimpulan
                5.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN                         
Nama    : Sri Rahayu
NPM    : 26211879
Kelas    : 3EB19
Dosen   : Edy Prihantoro
MK      : SOFTSKILL(Bhs.Indonesia 2)